Logo SantriDigital

Hari buruh

Khutbah Jumat
M
Muhammad Adryan
30 April 2026 5 menit baca 0 views

Bismillahir Rahmanir Rahim. Alhamdulillahil ladzi hadana lihadza wa ma kunna linahtadiyalaula an hadanallah. Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la s...

Bismillahir Rahmanir Rahim. Alhamdulillahil ladzi hadana lihadza wa ma kunna linahtadiyalaula an hadanallah. Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarikalahu ilahul mubin. Wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluhu sayyidul mursalin. Allahumma shalli wa sallim ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Hari ini, dunia memperingati sebuah momen yang seringkali dibingkai dalam semangat perjuangan, pengorbanan, dan cita-cita. Hari para pekerja, hari buruh. Namun, sebagai hamba Allah, sebagai umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita patut merenungkan lebih dalam: apa makna sesungguhnya dari bekerja dalam pandangan Islam? Apakah ia sekadar mencari nafkah, atau ada dimensi spiritual yang lebih tinggi yang seharusnya menyertai setiap tetes keringat kita? Ketika kaki-kaki kita melangkah menuju tempat kerja, adakah hati kita juga melangkah mendekat kepada Rabb semesta alam? Renungkanlah firman Allah yang Maha Kuasa dalam surah Al-Baqarah ayat 164: وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۖ وَالنُّجُومُ مُسَخَّرَاتٌ بِأَمْرِهِ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ "Dan Dia menundukkan untukmu malam dan siang, matahari dan bulan. Dan bintang-bintang tunduk diperintahkan-Nya. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memahami." Setiap detik yang kita habiskan dalam bekerja, sejatinya adalah bagian dari karunia dan nikmat Allah. Langit yang terbentang, bumi yang kokoh, matahari yang menghangatkan, bulan yang menerangi, semuanya adalah alat yang Allah tundukkan untuk kemaslahatan kita. Kitalah yang seharusnya tunduk kepada-Nya, bukan hanya saat beribadah di masjid, tetapi juga di setiap gerak dan langkah kita di gelanggang dunia. Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Bekerja dalam Islam bukanlah tujuan akhir, melainkan wasilah, sarana untuk menggapai ridha Allah. Tubuh yang kita gerakkan, pikiran yang kita kerahkan, itu semua adalah amanah yang kelak akan dihisab oleh-Nya. Betapa seringnya kita merasa lelah, merasa tertekan oleh tuntutan pekerjaan. Namun, ingatlah, tidak ada lelah yang sia-sia di sisi Allah, asalkan niatnya lurus dan caranya halal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَنْ أَسَّرَ أَجِيرًا، فَإِنَّهُ يُخْدَعُ» (رواه ابن ماجه) Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang menahan hak seorang pekerja, maka sungguh ia telah curang.” Terlebih lagi, jika pekerjaan itu kita lakukan demi menafkahi keluarga tercinta, demi menghidupi anak-anak yang kelak akan menjadi saksi amal kita kelak di hari perhitungan. Keringat yang membasahi baju kerja kita adalah bukti pengabdian kita, sekaligus potensi pahala yang tak terhingga. Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Namun, di balik segala rentetan pekerjaan, tersembunyi sebuah kenyataan yang takkan pernah bisa kita hindari: yaitu kematian. Sebuah profesi, sehebat apapun, semulia apapun di mata manusia, tidak akan bisa menyelamatkan kita dari panggilan-Nya. Hari ini kita sibuk dengan target, dengan deadline, dengan segala hiruk pikuk dunia. Namun esok, atau lusa, atau di waktu yang tak terduga, kita mungkin akan dipanggil menghadap Sang Pencipta. Allah berfirman: فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ "Ketika ajal mereka tiba, mereka tidak dapat menundanya sedikit pun dan tidak dapat (mengundurnya) sedikit pun." (QS. Al-A’raf: 34) Bayangkanlah, sejenak saja, saat malaikat maut datang menjemput. Apa yang bisa kita banggakan? Rekening bank yang gemuk? Jabatan yang tinggi? Reputasi yang cemerlang? Semua itu luruh tak berdaya di hadapan keagungan-Nya. Yang tersisa hanyalah amal perbuatan kita. Shalat kita, puasa kita, sedekah kita, dan bagaimana kita memanfaatkan setiap detik amanah hidup ini. Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Hari buruh ini, mari kita jadikan hari untuk merenungkan esensi bekerja sebagai ibadah. Bukan sekadar mencari sesuap nasi yang halal, tapi bagaimana setiap pekerjaan kita menjadi jalan untuk mencintai Allah lebih dalam. Ketika kita menunaikan tugas dengan jujur, ketika kita bersikap adil kepada sesama rekan kerja, ketika kita tidak menzalimi siapa pun demi keuntungan pribadi, di situlah rahmat Allah turun. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari: عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ سَأَلَ النَّاسَ تَكَفُّفًا، لِتَكُونَ صُدْقَتُهُ مَكْرَمَةً لَهُ، فَإِنَّمَا يَسْأَلُ جَمْرًا، فَلْيُكْثِرْ أَوْ لِيُقَلِّلْ.» (رواه مسلم) Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Barangsiapa meminta-minta (mengemis) agar hartanya bertambah banyak, padahal ia hanya mengumpulkan bara api dari neraka, maka terserah kepadanya apakah ia akan mengumpulkannya banyak atau sedikit.” Ini menekankan betapa pentingnya mencari rezeki dengan cara yang benar dan menghindari segala bentuk ketidakjujuran. Marilah kita renungkan, wahai saudara-saudari seiman. Apakah kita sudah menempatkan pekerjaan kita sebagai ladang amal? Apakah kita sudah bekerja dengan sungguh-sungguh karena Allah, bukan hanya karena takut pada atasan atau demi sekadar mendapatkan pujian? Renungkanlah keindahan surga yang dijanjikan bagi mereka yang beramal shalih. Renungkanlah kengerian neraka bagi mereka yang lalai dan berbuat dosa. Ketahuilah, waktu adalah modal utama kita di dunia ini. Setiap detik yang berlalu adalah permata yang takkan pernah kembali. Apakah kita menghabiskannya dalam kefuturan dan kelalaian, atau dalam kesungguhan meraih ridha-Nya? Allah berfirman: وَآتِهِمْ مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي آتَاكَ ۖ وَلَا تُؤْتُوا الْخَبَثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ "Dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang telah Dia anugerahkan kepadamu. Dan janganlah kamu menafkahkan hartamu dalam rangka menipu, padahal kamu tidak akan menerimanya kecuali dengan memejamkan mata dengan susah payah. Dan ketahuilah bahwasanya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji." (QS. Al-Baqarah: 267) Ayat ini mengingatkan kita, bahwa harta yang kita miliki adalah titipan Allah, dan cara kita memperoleh serta menggunakannya akan dimintai pertanggungjawaban. Wahai diri, wahai hati yang mendengarkan, mari kita ubah cara pandang kita terhadap pekerjaan. Ia bukan beban, ia adalah amanah. Ia bukan kelelahan semata, ia adalah kesempatan untuk beribadah. Mari kita tunaikan setiap tugas dengan hati yang penuh pengharapan akan rahmat Allah, dan hati yang dipenuhi rasa takut akan siksa-Nya. Semoga Allah menjadikan setiap langkah kita dalam bekerja adalah langkah menuju surga-Nya. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →